Rain?
di Situlah Mulai Ada Rasa
(Oleh
: Suginingsih)
Malam sudah
begitu larut, hujan tak kunjung reda, apa yang harus kulakukan jika sudah
terlanjur sendirian. Saat ini aku berada di kamar kos sendirian tanpa ada
sumber suara dari satu orangpun. Hanya ada suara rintikan air hujan yang turun
menetesi gerbang besi yang sudah mulai berkarat. Mau tidur rasanya hati tidak menginginkan.
Hati dan mata tidak sinkron, percuma jika mata merem tapi hati dan fikiran
masih membayangkan sesuatu yang tabu.
Fikiran mulai tak karuan, ingin
berkata namun dengan siapa? Disini hanya ada sekotak kamar minimalis dengan
spring bad, bantal, guling dan buku buku kuliah yang berserakan karena tidak
ada rak buku yang memadai. Bersahabat dengan kipas yang bergerak , ke kanan- ke
kiri begitu seterusnya hingga pagi. Tidak mungkin aku berbincang-bincang
denganya.
Jam dinding terus berjalan, kini
sudah menunjukkan pukul 02.24. Aku masih saja belum tertidur. Ketika itu aku
teringat oleh semua kenangan yang terdahulu. “Aku mengingat siapa?, aku
mengingat kau!. Kau adalah manusia yang memberiku cinta, itu dulu. Sekarang
hanya tersisa jutaan kata yang selalu terbayang ketika larut malam. Kenangan
itu sudah lama memang, tapi kekecewaan jelas masih ada.
Aku pernah berfikir, “ Apakah kau
pernah merasakan hal yang sama atau hanya aku disini yang selalu dibayangi oleh
rasa?”. Tidak sepantasnya aku bertanya, mungkin kamu pikir menyakiti itu hal
bisa, seakan-akan seperti orang yang tidak punya dosa.
Seketika temanku bertanya,” Rain,
Kamu masih menginginkanya?”. Tentu saja Aku jawab tidak. Jika didunia ini hanya
tersisa satu laki-laki, Lebih baik aku memilih untuk sendiri. Sendiri memang
menyakitkan, remaja tidak punya pasangan memang rasanya hampa. Untuk apa memadu
kasih dengan orang yang salah, sama saja kita membuang-buang waktu untuk
sesuatu yang seharusnya tidak menjadi prioritas.
Setahun silam, Aku memang pernah
menjalin hubungan dengan seorang Pria, Rendra namanya. Yang aku fikir dialah
orang yang selalu bisa mengerti, bisa memahami, yang selalu setia dengan
pasanganya. Awalnya memang begitu. Mungkin salahku yang tidak terlalu mencari
tahu tentang latar belakang dia bagaimana. Pandangan pertama karena aku sudah tertarik
denganya. Apalagi ketika dia menyatakan cinta, aku tidak ada niataan untuk
menolaknya.
Sejak awal memang gelagapnya agak
aneh, namun aku tidak begitu memperdulikan.
Dia yang selalu meyakinkan aku ketika aku merasa curiga. Aku mudah
percaya karena dia tipe orang yang pandai bicara. Ketika dia salah ada saja
kesalahanku yang ia cari-cari untuk menutupi kesalahanya.
Dia bertingkah seperti tidak apa-apa
dihadapanku, padahal ada rahasia besar yang ia tutup-tutupi. Dia mempunyai
singgahan lain. Pantas saja ketika bertemu, gadget selalu disembunyikan. Aku
diyakinkan lagi oleh teman dekatnya, “Iya memang dia punya simpanan lain, dia
orang yang tidak pernah merasa cukup jika hanya punya 1 pasangan”. Kata temanya
kepadaku. Aku tidak habis fikir jelas saja dia orang yang tidak bernah
bersyukur.
Aku memilih untuk mengakhiri saja,
selama ini aku memprioritaskan orang yang salah. Dia mencari-cari alasan supaya
hubungan kami tidak berakhir. Dengan segala tingkahnya yang bodoh dan menurutku
itu sangat menjengkelkan. Mau tidak mau aku ingin putus. Sejak itu aku sangat
membenci manusia satu itu. Ini hal ysng menurutku sangat mengecewakan bahkan
memalukan , Aku malu dengan diriku sendiri memilihnya untuk singgah walaupun
hanya sebentar. Tidak ada kesempatan kedua untuknya.
“ Sudah, ini
keputusanmu yang paling benar”, sahut temanku.
“ Yang dia
lakukan ke Aku itu, Jahat!”
“ yang sabar,
ini ujian. Kamu akan mendapatkan yang lebih baik dari dia suatu saat nanti.”
Jawab temanku.
“Semoga”.
Sampai saat ini Aku sangat berhati-hati
dalam memilih lelaki. Ya memang begitu kodratnya awal kenal pasti yang diperlihatkan
hanya baik-baiknya saja. Tidak semuanya tapi kebanyakan. Memilih sendiri memang
hal yang tidak mudah, terkadang menjadi bahan Bullying teman-teman karena terlalu lama menjomblo dan sering
merasa kesepian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar