Kamis, 06 April 2017

Cerpen


Rain? di Situlah Mulai Ada Rasa
(Oleh : Suginingsih)
         
            Malam sudah begitu larut, hujan tak kunjung reda, apa yang harus kulakukan jika sudah terlanjur sendirian. Saat ini aku berada di kamar kos sendirian tanpa ada sumber suara dari satu orangpun. Hanya ada suara rintikan air hujan yang turun menetesi gerbang besi yang sudah mulai berkarat.  Mau tidur rasanya hati tidak menginginkan. Hati dan mata tidak sinkron, percuma jika mata merem tapi hati dan fikiran masih membayangkan sesuatu yang tabu.
            Fikiran mulai tak karuan, ingin berkata namun dengan siapa? Disini hanya ada sekotak kamar minimalis dengan spring bad, bantal, guling dan buku buku kuliah yang berserakan karena tidak ada rak buku yang memadai. Bersahabat dengan kipas yang bergerak , ke kanan- ke kiri begitu seterusnya hingga pagi. Tidak mungkin aku berbincang-bincang denganya.
            Jam dinding terus berjalan, kini sudah menunjukkan pukul 02.24. Aku masih saja belum tertidur. Ketika itu aku teringat oleh semua kenangan yang terdahulu. “Aku mengingat siapa?, aku mengingat kau!. Kau adalah manusia yang memberiku cinta, itu dulu. Sekarang hanya tersisa jutaan kata yang selalu terbayang ketika larut malam. Kenangan itu sudah lama memang, tapi kekecewaan jelas masih ada.
            Aku pernah berfikir, “ Apakah kau pernah merasakan hal yang sama atau hanya aku disini yang selalu dibayangi oleh rasa?”. Tidak sepantasnya aku bertanya, mungkin kamu pikir menyakiti itu hal bisa, seakan-akan seperti orang yang tidak punya dosa.
            Seketika temanku bertanya,” Rain, Kamu masih menginginkanya?”. Tentu saja Aku jawab tidak. Jika didunia ini hanya tersisa satu laki-laki, Lebih baik aku memilih untuk sendiri. Sendiri memang menyakitkan, remaja tidak punya pasangan memang rasanya hampa. Untuk apa memadu kasih dengan orang yang salah, sama saja kita membuang-buang waktu untuk sesuatu yang seharusnya tidak menjadi prioritas.
            Setahun silam, Aku memang pernah menjalin hubungan dengan seorang Pria, Rendra namanya. Yang aku fikir dialah orang yang selalu bisa mengerti, bisa memahami, yang selalu setia dengan pasanganya. Awalnya memang begitu. Mungkin salahku yang tidak terlalu mencari tahu tentang latar belakang dia bagaimana. Pandangan pertama karena aku sudah tertarik denganya. Apalagi ketika dia menyatakan cinta, aku tidak ada niataan untuk menolaknya.
            Sejak awal memang gelagapnya agak aneh, namun aku tidak begitu memperdulikan.  Dia yang selalu meyakinkan aku ketika aku merasa curiga. Aku mudah percaya karena dia tipe orang yang pandai bicara. Ketika dia salah ada saja kesalahanku yang ia cari-cari untuk menutupi kesalahanya.
            Dia bertingkah seperti tidak apa-apa dihadapanku, padahal ada rahasia besar yang ia tutup-tutupi. Dia mempunyai singgahan lain. Pantas saja ketika bertemu, gadget selalu disembunyikan. Aku diyakinkan lagi oleh teman dekatnya, “Iya memang dia punya simpanan lain, dia orang yang tidak pernah merasa cukup jika hanya punya 1 pasangan”. Kata temanya kepadaku. Aku tidak habis fikir jelas saja dia orang yang tidak bernah bersyukur.
            Aku memilih untuk mengakhiri saja, selama ini aku memprioritaskan orang yang salah. Dia mencari-cari alasan supaya hubungan kami tidak berakhir. Dengan segala tingkahnya yang bodoh dan menurutku itu sangat menjengkelkan. Mau tidak mau aku ingin putus. Sejak itu aku sangat membenci manusia satu itu. Ini hal ysng menurutku sangat mengecewakan bahkan memalukan , Aku malu dengan diriku sendiri memilihnya untuk singgah walaupun hanya sebentar. Tidak ada kesempatan kedua untuknya.
“ Sudah, ini keputusanmu yang paling benar”, sahut temanku.
“ Yang dia lakukan ke Aku itu, Jahat!”
“ yang sabar, ini ujian. Kamu akan mendapatkan yang lebih baik dari dia suatu saat nanti.” Jawab temanku.
“Semoga”.
            Sampai saat ini Aku sangat berhati-hati dalam memilih lelaki. Ya memang begitu kodratnya awal kenal pasti yang diperlihatkan hanya baik-baiknya saja. Tidak semuanya tapi kebanyakan. Memilih sendiri memang hal yang tidak mudah, terkadang menjadi bahan Bullying teman-teman  karena terlalu lama menjomblo dan sering merasa kesepian.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar