Minggu, 23 April 2017

R.A. KARTINI


Habis Gelap Terbitlah Terang
Semboyan wanita yang luar biasa yang menjadikan Motivasi untuk wanita seluruh Indonesia.
Menjadi orang yang Mandiri dan tidak bergantung pada laki-laki.
"Wanita yang pikiranya sudah dicerdaskan, pemandanganya sudah diperluas, tidak akan sanggup lagi hidup di dalam dunia nenek moyang"

R.A. KARTINI

Kamis, 06 April 2017

Cerpen


Rain? di Situlah Mulai Ada Rasa
(Oleh : Suginingsih)
         
            Malam sudah begitu larut, hujan tak kunjung reda, apa yang harus kulakukan jika sudah terlanjur sendirian. Saat ini aku berada di kamar kos sendirian tanpa ada sumber suara dari satu orangpun. Hanya ada suara rintikan air hujan yang turun menetesi gerbang besi yang sudah mulai berkarat.  Mau tidur rasanya hati tidak menginginkan. Hati dan mata tidak sinkron, percuma jika mata merem tapi hati dan fikiran masih membayangkan sesuatu yang tabu.
            Fikiran mulai tak karuan, ingin berkata namun dengan siapa? Disini hanya ada sekotak kamar minimalis dengan spring bad, bantal, guling dan buku buku kuliah yang berserakan karena tidak ada rak buku yang memadai. Bersahabat dengan kipas yang bergerak , ke kanan- ke kiri begitu seterusnya hingga pagi. Tidak mungkin aku berbincang-bincang denganya.
            Jam dinding terus berjalan, kini sudah menunjukkan pukul 02.24. Aku masih saja belum tertidur. Ketika itu aku teringat oleh semua kenangan yang terdahulu. “Aku mengingat siapa?, aku mengingat kau!. Kau adalah manusia yang memberiku cinta, itu dulu. Sekarang hanya tersisa jutaan kata yang selalu terbayang ketika larut malam. Kenangan itu sudah lama memang, tapi kekecewaan jelas masih ada.
            Aku pernah berfikir, “ Apakah kau pernah merasakan hal yang sama atau hanya aku disini yang selalu dibayangi oleh rasa?”. Tidak sepantasnya aku bertanya, mungkin kamu pikir menyakiti itu hal bisa, seakan-akan seperti orang yang tidak punya dosa.
            Seketika temanku bertanya,” Rain, Kamu masih menginginkanya?”. Tentu saja Aku jawab tidak. Jika didunia ini hanya tersisa satu laki-laki, Lebih baik aku memilih untuk sendiri. Sendiri memang menyakitkan, remaja tidak punya pasangan memang rasanya hampa. Untuk apa memadu kasih dengan orang yang salah, sama saja kita membuang-buang waktu untuk sesuatu yang seharusnya tidak menjadi prioritas.
            Setahun silam, Aku memang pernah menjalin hubungan dengan seorang Pria, Rendra namanya. Yang aku fikir dialah orang yang selalu bisa mengerti, bisa memahami, yang selalu setia dengan pasanganya. Awalnya memang begitu. Mungkin salahku yang tidak terlalu mencari tahu tentang latar belakang dia bagaimana. Pandangan pertama karena aku sudah tertarik denganya. Apalagi ketika dia menyatakan cinta, aku tidak ada niataan untuk menolaknya.
            Sejak awal memang gelagapnya agak aneh, namun aku tidak begitu memperdulikan.  Dia yang selalu meyakinkan aku ketika aku merasa curiga. Aku mudah percaya karena dia tipe orang yang pandai bicara. Ketika dia salah ada saja kesalahanku yang ia cari-cari untuk menutupi kesalahanya.
            Dia bertingkah seperti tidak apa-apa dihadapanku, padahal ada rahasia besar yang ia tutup-tutupi. Dia mempunyai singgahan lain. Pantas saja ketika bertemu, gadget selalu disembunyikan. Aku diyakinkan lagi oleh teman dekatnya, “Iya memang dia punya simpanan lain, dia orang yang tidak pernah merasa cukup jika hanya punya 1 pasangan”. Kata temanya kepadaku. Aku tidak habis fikir jelas saja dia orang yang tidak bernah bersyukur.
            Aku memilih untuk mengakhiri saja, selama ini aku memprioritaskan orang yang salah. Dia mencari-cari alasan supaya hubungan kami tidak berakhir. Dengan segala tingkahnya yang bodoh dan menurutku itu sangat menjengkelkan. Mau tidak mau aku ingin putus. Sejak itu aku sangat membenci manusia satu itu. Ini hal ysng menurutku sangat mengecewakan bahkan memalukan , Aku malu dengan diriku sendiri memilihnya untuk singgah walaupun hanya sebentar. Tidak ada kesempatan kedua untuknya.
“ Sudah, ini keputusanmu yang paling benar”, sahut temanku.
“ Yang dia lakukan ke Aku itu, Jahat!”
“ yang sabar, ini ujian. Kamu akan mendapatkan yang lebih baik dari dia suatu saat nanti.” Jawab temanku.
“Semoga”.
            Sampai saat ini Aku sangat berhati-hati dalam memilih lelaki. Ya memang begitu kodratnya awal kenal pasti yang diperlihatkan hanya baik-baiknya saja. Tidak semuanya tapi kebanyakan. Memilih sendiri memang hal yang tidak mudah, terkadang menjadi bahan Bullying teman-teman  karena terlalu lama menjomblo dan sering merasa kesepian.


Sabtu, 11 Maret 2017

Kiai Ababil



Kiai Ababil
ilustrasi Pata Areadi/Media Indonesia

            Tokoh Aku yang menceritakan tentang Kiai Ababil. Ia adalah Kiai yang cukup kondang di Kota lahirnya, pernah seketika Kiai dimusuhi Lekra karena pementasan sandiwara dan Kiai Ababil menentangnya.

Yang paling berkesan dari Kiai Ababil adalah sarungnya. Banyak orang-orang yang berebut mencuci sarungnya, sarung yang setiap hari dipakai. Tokoh aku adalah bagian dari orang-orang yang ikut berebut mencuci sarung Kiai Ababil, Muncul rasa kepuasan tersendiri ketika Aku berhasil mencuci sarungnya. Dengan cara licik sekalipun dilakukan untuk dapat memenangkan sayembara mencuci sarung tersebut, tentu berkepentingan untuk mencari muka didepan Kiai.
            Kiai Ababil yang sekarang mudah percaya padaku. Aku juga mengenali tamu-tamu kiai Ababil yang datang dari jauh-jauh , kedatanganya berniat mulai untuk minta saran dan doa, meraih cita-cita dan nasib baik. Kiai Ababil sering menerima souvenir beruba jam karena ujaranya yang khas tentang waktu. Jam-jam pemberian para tamu itu dirawat dan diinvestasikan oleh para santri dan aku
            Banyak sekali keculasan yang dilakukan selama hidup dipesantren, yaitu mengakses nama dan alamat tamu untuk kepentingan sendiri yaitu dimintai uang sumbangan untuk pesantren modusnya. Namun uang itu dipakai sendiri untuk berfoya-foya
            Di usia muda Aku meninggalkan pesantren, tapi kini di Usia tua Aku hanya meringkal di penjara karena keculasanya.

Tangisan Ibu dan Tarian Hujan


Tangisan Ibu & Tarian Hujan
                                               ilustrasi Hery Purnomo/Suara Merdeka                                              

            Hujan adalah denting piano dan petir adalah debum drum.
Hari itu, hujan deras mengguyur jalanan. Petir-petir menyambar, memaksa anak-anak berlarian masuk rumah.

Seorang anak yang tunggal yang tadinya keluar saat hujan diminta Ibunya untuk masuk rumah, mandi dang anti pakaian yang kering.
Sang Ibu yang masih menunggu anaknya pulang tetap berdiri di depan rumah yang sudah tergenang air. Padahal semua orang tahu bahwa anaknya kini sudah mati terbawa banjir ketika pulang sekolah.
            Adik dari anak yang mati it uterus saja membujuk Ibunya untuk masuk kerumah. Sejak kecil ia menyukai hujan begitu pula dengan kakak perempuanya, namun sampai suatu hari Dia tak lagi menyukai hujan, karena Hujan telah meremggut nyawa Ayah dan Kakak perempuanya.
            Ayah mati ketika sedang mencari kakak perempuanya yang terbawa banjir saat pulang sekolah. Sampai sekarang jasad kakak tidak lagi ditemukan. Bukan kakak yang dibawa pulang tetapi jasad Ayah yang dipulangkan. Hal inilah yang membuat Ibu gila.

Cemani yang Tak Mau Pergi


Cemani yang Tak Mau Pergi
Cerpen Angelina Enny (Kompas, 26 Februari 2017)

Riza yang bingung ingin melepas si Itam pergi, namun hatinya berkata tidak. Tentang persoalan  Riza marah menyelimuti tubuhnya. Tentang dirinya, tentang orangtuanya, dan pada keadaan. Tentang Ayahnya yang mati meninggalkan utang, Ibunya yang sakit dan membutuhkan obat, dan mengapa ia harus dilahirkan sebagai anak pertama yang menanggung semuanya? Dua adiknya yang butuh sekolah.
Suatu ketika Datuk datang membujuk Riza untuk menjual ayamnya, perihal petunjuk Mak Etek tentang ladangnya yang sudah dua kali gagal panen.

Karena ladangnya ladangnya yang diserang tikus, Mak Etek member saran kepada Datuk untuk mengadakan ruwatan yaitu menyembelih seekor cemani dewasa, harus jantan, berlidah, dan berdarah hitam. Darahnya lah yang akan menjaga ladangnya.
            Satu-satunya orang didusun itu yang mempunyai ayam cemani adalah Riza. Namun Riza ini nampak sayang sekali pada ayamnya. Meskipun ia tahu bahwa Ibunya sakit keras dan membutuhkan uang untuk obat.
Riza tidak punya niatan untuk menjual ayam cemaninya meskipun diberi harga yang tinggi oleh  Datuk. Bagi Riza si Itam sudah seperti sahabatnya sendiri dan ayam itu memang seperti mengenal dirinya. Riza menemukan si itam di aliran sungai kecil dekat Bukit Tui, seminggu setelah peristiwa mengenaskan yang menimpa Ayahnya. 

Bersama Kesepian

Bersama Kesepian

Dengan kesepian hidupku akan tenang, member arti kehidupan, kebaikan dan kebebasan. Dengan kesepian aku dapat menerima, bertekad, berjuang dan memecahkan persoalan. Aku selalu meluapkan apapun dengan kesepian. Aku sering menyebut bapakku dengan tubuh gumpal. Tubuhnya bertato, bau mulutnya tidak enak, dan sering menakut-nakuti orang. Aku sangat tidak suka denganya. Sejak kecil, aku memang tidak suka denganya, aku lebih nyaman dengan kesepian.

Tubuh gumpal selalu membosankan, selalu pulang larut malam, mengamuk dan membanting apa saja disekitarnya.

Suatu ketika, aku diminta olehnya untuk menemui pipin, yaitu untuk melamarnya. Aku enggan menemui laki-laki itu yang sama sekali aku tidak menyukainya. Aku bergerak untuk meninggalkan tubuh gumpal, tapi semua nampak gagal, aku ditari dan dibawa kepada Pipin. Tanganya meremasi jemariku. Seperti ingin mati mendadak didekatnya.
Salah satu temanya membawa tali tambang untuk menangkap diriku namun aku berlari menuju kamar. Aku menuju kesepian itu datang. Tubuh gumpal dan Pipin mendobrak pintu kamarku untuk mencariku, biarlah mereka terus mencariku karena aku sudah menjadi kesepian yang berada sepanjang waktu.