Selasa, 21 Februari 2017

“ Mawas Diri Menakar Berani ”
Oleh : Suginingsih
          Pentas wayang di Balairung Universitas PGRI Semarang pada hari selasa tanggal 20 Oktober 2015 yang diikuti oleh seluruh mahasiswa Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni dari semester satu hingga semester atas yang di laksanakan dalam rangka memperingati Bulan Bahasa. Sebelumnya Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni UPGRIS juga telah melaksanakan lomba debat tiga bahasa yang sebelumnya juga mengadakan nonton bareng film “ Soekarno ”.
          Ribuan mahasiswa yang tak sabar menyaksikan pentas Wayang Kampung Sebelah , setelah kata sambutan dari Rektor Dr. Muhdi, S.H.,M.Hum dan ketua yayasan PGRI  Dr.Sudharto ,M.A , keduanya kemudian menyerahkan wayang tokoh kampret  kepada dalang Jliteng Suparman sebagai pertanda akan dimulainya pentas.  Membawakan lakon “Mawas Diri Menakar Berani” seluruh penonton dibawa larut dalam cerita , tawa, tegang hingga tersentak.
          Awal cerita penonton sudah dibuat terpingkal-pingkal dengan munculnya tokoh bernama Plungsur yang mencalonkan diri sebagai Kepala Desa Bangunjiwo. Gaya bahasanya yang ingin terlihat intelek namun justru membingungkan mengingatkan penonton dengan aktor bernama Vicky Prasetyo.
          Singkat cerita Plungsur dan Somad bersaing ketat untuk menjadi orang nomor satu di Desa Bangunjiwo. Keduanya sama-sama menggunakan cara yang kurang baik , dari money politik hingga kecurangan dalam perhitungan.
          Somad keluar sebagai pemenang, untuk merayakanya ia pun mengundang artis-artis nasional sebagai hiburan untuk para pendukungnya . Raja dangdut Komaramari, penyanyi Minul Darah Tinggi , hingga artis papan atas Syahmarni. Kemudian mereka memberikan hiburan.
          Ki Jliteng memang piawai menggerakkan tanganya sehingga membuat benda mati seolah menjadi hidup. Cara menggitar dan bergoyang Koma Ramarimari misalnya yang memang nampak seperti Rhoma Irama yang sedang berparodi. Wayang Syahmarni yang memparodikan tokoh Syahrini. Lucu banget, gerakanya wayang bisa lentur mempresentasikan  sosok syahrini yang centil, sangat menghibur  pertunjukanya.
Tidak disangka ditengah pertunjukan yang asyik, pendukung Plungsur menghentikan pesta karena menemukan kecurangan dalam pemilihan Kepala Desa. Warga yang merasa terganggu karena hiburanya diganggu, dan pendukung Plungsur kemudian bentrok.
          Ki Jliteng sebelum pentas menjelaskan , keributan dalam masa pemilihan umum seolah menjadi hal yang biasa di Indonesia “Sebelum pemilu ribut , setelah pemilu ribut, mari kita mendinginkan pikiran jelang pilkada serentak nanti” terangnya kepada para Mahasiswa.
Pesan yang dapat diambil ialah menjelang Pilkada ,serentak kita harus memikirkan benar siapa tokoh yang patut dipilih . (*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar