Bersama
Kesepian
Dengan kesepian hidupku akan tenang, member arti kehidupan,
kebaikan dan kebebasan. Dengan kesepian aku dapat menerima, bertekad, berjuang
dan memecahkan persoalan. Aku selalu meluapkan apapun dengan kesepian. Aku sering
menyebut bapakku dengan tubuh gumpal. Tubuhnya bertato, bau mulutnya tidak
enak, dan sering menakut-nakuti orang. Aku sangat tidak suka denganya. Sejak kecil,
aku memang tidak suka denganya, aku lebih nyaman dengan kesepian.
Tubuh gumpal selalu membosankan, selalu pulang larut malam,
mengamuk dan membanting apa saja disekitarnya.
Suatu ketika, aku diminta olehnya untuk menemui pipin, yaitu
untuk melamarnya. Aku enggan menemui laki-laki itu yang sama sekali aku tidak
menyukainya. Aku bergerak untuk meninggalkan tubuh gumpal, tapi semua nampak
gagal, aku ditari dan dibawa kepada Pipin. Tanganya meremasi jemariku. Seperti ingin
mati mendadak didekatnya.
Salah satu temanya membawa tali tambang untuk menangkap
diriku namun aku berlari menuju kamar. Aku menuju kesepian itu datang. Tubuh gumpal
dan Pipin mendobrak pintu kamarku untuk mencariku, biarlah mereka terus
mencariku karena aku sudah menjadi kesepian yang berada sepanjang waktu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar