Tangisan Ibu & Tarian Hujan
ilustrasi
Hery Purnomo/Suara Merdeka
Hujan adalah denting piano dan petir adalah debum drum.
Hari itu, hujan deras
mengguyur jalanan. Petir-petir menyambar, memaksa anak-anak berlarian masuk
rumah.
Seorang anak yang
tunggal yang tadinya keluar saat hujan diminta Ibunya untuk masuk rumah, mandi
dang anti pakaian yang kering.
Sang Ibu yang masih
menunggu anaknya pulang tetap berdiri di depan rumah yang sudah tergenang air.
Padahal semua orang tahu bahwa anaknya kini sudah mati terbawa banjir ketika
pulang sekolah.
Adik dari anak yang mati it uterus saja membujuk Ibunya
untuk masuk kerumah. Sejak kecil ia menyukai hujan begitu pula dengan kakak
perempuanya, namun sampai suatu hari Dia tak lagi menyukai hujan, karena Hujan
telah meremggut nyawa Ayah dan Kakak perempuanya.
Ayah mati ketika sedang mencari kakak perempuanya yang
terbawa banjir saat pulang sekolah. Sampai sekarang jasad kakak tidak lagi
ditemukan. Bukan kakak yang dibawa pulang tetapi jasad Ayah yang dipulangkan.
Hal inilah yang membuat Ibu gila.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar