Sabtu, 11 Maret 2017

Tangisan Ibu dan Tarian Hujan


Tangisan Ibu & Tarian Hujan
                                               ilustrasi Hery Purnomo/Suara Merdeka                                              

            Hujan adalah denting piano dan petir adalah debum drum.
Hari itu, hujan deras mengguyur jalanan. Petir-petir menyambar, memaksa anak-anak berlarian masuk rumah.

Seorang anak yang tunggal yang tadinya keluar saat hujan diminta Ibunya untuk masuk rumah, mandi dang anti pakaian yang kering.
Sang Ibu yang masih menunggu anaknya pulang tetap berdiri di depan rumah yang sudah tergenang air. Padahal semua orang tahu bahwa anaknya kini sudah mati terbawa banjir ketika pulang sekolah.
            Adik dari anak yang mati it uterus saja membujuk Ibunya untuk masuk kerumah. Sejak kecil ia menyukai hujan begitu pula dengan kakak perempuanya, namun sampai suatu hari Dia tak lagi menyukai hujan, karena Hujan telah meremggut nyawa Ayah dan Kakak perempuanya.
            Ayah mati ketika sedang mencari kakak perempuanya yang terbawa banjir saat pulang sekolah. Sampai sekarang jasad kakak tidak lagi ditemukan. Bukan kakak yang dibawa pulang tetapi jasad Ayah yang dipulangkan. Hal inilah yang membuat Ibu gila.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar